Monster Handheld $1.000 dengan Resep Xbox: Apakah Asus dan Microsoft Terlalu Kelewatan?

Monster Handheld $1.000 dengan Resep Xbox: Apakah Asus dan Microsoft Terlalu Kelewatan?

Oleh Reggi, 31 Aug 2026

Pasar handheld gaming PC akhir-akhir ini memang makin liar. Dulu Valve bikin standar lewat Steam Deck dengan harga masuk akal, tapi sekarang vendor laptop seolah berlomba-lomba menjejalkan spesifikasi dewa ke dalam casing ringkas tanpa peduli dompet pembaca. Di titik puncak kegilaan ini, saya kedatangan perangkat hasil kawin silang antara Asus dan Microsoft. Lewat artikel ASUS ROG Xbox Ally Review ini, kita bakal bedah tuntas apakah perangkat seharga $1.000 ini memang benar-benar puncak evolusi mesin portable atau sekadar ambisi overpriced yang salah kaprah.

Microsoft terang-terangan menempelkan label Xbox pada perangkat yang sebenarnya adalah sebuah PC Windows portabel buatan Asus. Mereka ingin kamu percaya bahwa ini adalah sebuah konsol Xbox masa depan. Tapi buat kita yang sudah makan asam garam di dunia hardware PC, klaim pemasaran tentu tak bisa ditelan mentah-mentah.

Evolusi Dapur Pacu: Dari Z1 Extreme Melompat ke Ryzen Z2 Extreme

Jika kita kilas balik ke ROG Ally versi perdana, chip AMD Ryzen Z1 Extreme sebenarnya sudah memberikan peningkatan besar dibanding generasi Ryzen 7 6800U. Namun, isu daya dan efisiensi di wattage rendah sempat membuat pengguna gigit jari. Nah, ROG Xbox Ally X melangkah lebih jauh dengan menyematkan APU AMD Ryzen Z2 Extreme berbasis arsitektur Strix Point.

Chip ini adalah hasil pemangkasan cerdas dari Ryzen AI 9 HX 370. AMD mencopot beberapa core yang tidak perlu untuk ukuran handheld, menyisakan total 8 core dan 16 thread yang merupakan kombinasi dari core Zen 5 dan Zen 5c. Pemangkasan ini membuat penggunaan daya jauh lebih efisien tanpa mengorbankan performa komputasi.

Yang paling menggiurkan jelas di sektor grafis. Di dalamnya tertanam iGPU Radeon 890M berbasis RDNA 3.5 dengan 16 Compute Units. Dipadukan dengan RAM 24 GB LPDDR5x yang berlari kencang di 8000 MT/s, unit ini sukses menjadi handheld paling kencang yang pernah diuji, menumbangkan pesaing seperti OneXPlayer OneXFly F1 Pro (Ryzen AI 9 HX 370) dan MSI Claw dengan Intel Core Ultra 7 285V.

Untuk melihat gambaran perbandingannya secara teknis, mari cek data spesifikasi kunci berikut:

Parameter SpesifikasiROG Ally Original (Z1 Extreme)ROG Xbox Ally X (Z2 Extreme)
Processor (APU)AMD Ryzen Z1 Extreme (Zen 4)AMD Ryzen Z2 Extreme (Zen 5 + Zen 5c)
CPU Core / Thread8 Core / 16 Thread8 Core / 16 Thread
Arsitektur GrafisRDNA 3RDNA 3.5 (Radeon 890M, 16 CU)
Kapasitas & Speed RAM16 GB LPDDR5 (6400/6500 MT/s)24 GB LPDDR5x (8000 MT/s)
Penyimpanan (SSD)M.2 2230 SSD1 TB PCIe 4.0 NVMe M.2 2280 SSD
Layar7-inci IPS LCD 1080p, 120Hz, VRR7-inci IPS LCD 1080p, 120Hz, 500 nits
Harga Peluncuran$700 (Z1 Extreme) / $600 (Z1)$1.000 (Xbox Ally X) / $600 (Non-X)

Realita Performa Gaming: Kencang, Tapi Apakah Beda Jauh?

Di atas kertas dan benchmark sintetis, Radeon 890M memang memegang tahta. Saat diajak berlari di mode Turbo, frame rate yang dihasilkan mengungguli pendahulunya. Game-game berat yang dulu terseok-seok di Steam Deck atau Ally generasi pertama kini bisa berjalan jauh lebih mulus.

Namun, kalau bicara angka framerate di kelas iGPU, keunggulan "beberapa frame per detik" itu terkadang terasa tipis di penggunaan nyata. Poin plus terbesarnya justru ada di efisiensi watt rendah. Pada preset Performance 17W, kamu bisa memainkan game seperti FC 26 di resolusi native 1080p dengan sangat lancar tanpa perlu utak-atik grafik ke tingkat rata kiri.

Fitur penunjang seperti AMD FSR dan frame generation juga berjalan manis di Radeon 890M, meskipun di beberapa judul game terkadang masih terlihat sedikit artifacting saat frame gen diaktifkan. Kalau kamu beralih ke game yang super menuntut seperti The Last of Us Part I, Cyberpunk, Elden Ring, atau Shadow of the Tomb Raider, alokasi VRAM yang bisa diatur bebas dari total RAM 24 GB benar-benar menjadi penyelamat dari bottleneck memori.

Ergonomi dan Desain: Tambah Menul-Menul, Tapi Jauh Lebih Nyaman

Secara estetika, bentuk ROG Xbox Ally X mungkin terlihat sedikit aneh karena memiliki grip yang lebih tebal dan menonjol di bagian bawah. Namun, saat perangkat ini mendarat di tangan, persepsi itu langsung berubah total. Ini adalah handheld PC paling ergonomis yang pernah dirancang.

Grip yang diperpanjang memberikan posisi pegangan yang persis seperti memegang stik Xbox bawaan konsol. Buat kamu yang jempolnya gampang pegal saat meraih thumbstick bawah pada handheld standar, desain ergonomis baru ini adalah sebuah berkah.

Imbas dari bodi yang sedikit lebih tebal ini adalah ruang termal yang lebih lega. Hasilnya? Sistem pendinginnya bekerja luar biasa hening. Bahkan ketika digeber pada mode Turbo, suara kipasnya hampir tidak terdengar dan sama sekali tidak mengganggu speaker stereo bawaannya yang lantang. Masalah tombol ABXY yang gampang tersangkut pada unit ulasan ROG Ally generasi awal juga sudah hilang sepenuhnya di lini baru ini.

Windows Overlay vs SteamOS: Pengalaman "Xbox" yang Belum Sempurna

Mari kita bahas gajah di dalam ruangan: sistem operasinya. Perangkat ini membawa fitur baru bernama Xbox Full Screen Experience, sebuah overlay khusus yang dirancang untuk menutupi kerumitan antarmuka Windows 11 di layar 7 inci.

Antarmuka ini sepintas mirip dengan dashboard Xbox Series X/S. Kamu bisa menggeser panel dengan mudah untuk berpindah antara aplikasi Xbox, Epic Games Store, hingga Steam. Proses boot terasa lebih cepat, dan transisi ke mode sleep jauh lebih bisa diandalkan dibanding Windows handheld tradisional.

Tapi, jangan salah sangka dulu. Ini tetaplah sebuah PC Windows, bukan konsol Xbox murni.

  • Kamu tidak akan menemukan fitur Quick Resume ajaib ala Xbox Series X yang bisa membekukan game selama berhari-hari lalu dilanjutkan seketika.
  • Begitu perangkat masuk ke mode hibernasi panjang, game yang sedang berjalan tetap akan tertutup secara otomatis.
  • Aplikasi Armoury Crate milik Asus masih wajib berjalan di latar belakang untuk mengatur fungsi hardware.

Hal ini membuat pengalamannya terasa terbelah. Kadang kamu harus menyeting sistem lewat UI Xbox, tapi di detik berikutnya kamu dilempar ke overlay Armoury Crate. Pengalaman pengguna yang sangat terpadu seperti pada SteamOS di Steam Deck belum bisa ditandingi oleh kombinasi racikan Microsoft dan Asus ini.

Layar IPS 1080p: Titik Lemah di Perangkat $1.000

Dengan banderol harga mencapai $1.000, ekspektasi kita tentu melambung tinggi. Sayangnya, Asus masih bertahan dengan panel 7 inci IPS LCD 1080p 120Hz berkecerahan 500 nits.

Memang, layarnya sangat responsif dan bebas dari efek ghosting saat memainkan game bertempo cepat. Fitur Variable Refresh Rate (VRR) dan Low Frame Compensation (LFC) juga tetap bekerja ajaib menjaga pergerakan gambar tetap mulus hingga kisaran 30fps. Tapi kalau dibenturkan dengan layar OLED milik Steam Deck OLED atau Lenovo Legion Go S versi SteamOS, panel layar Xbox Ally X ini terasa agak datar. Warnanya tidak se-vibrant layar OLED dan kontrasnya kurang menggigit untuk sebuah gadget gaming seharga laptop kelas menengah.

Kesimpulan: Untuk Siapa Handheld Seharga $1.000 Ini?

ASUS ROG Xbox Ally X adalah sebuah kontradiksi yang menarik. Di satu sisi, ini adalah handheld gaming PC terbaik, paling kencang, paling hening, dan paling nyaman di genggaman yang ada di pasaran saat ini. Peningkatan daya tahan baterai berkapasitas besar dan RAM 24 GB adalah jawaban atas semua keluhan pengguna handheld generasi pertama.

Di sisi lain, penetapan harga $1.000 dari Microsoft dan Asus terasa terlalu agresif dan sulit direkomendasikan kepada gamer kasual. Jika kamu hanya mencari perangkat pendamping untuk PC utama tanpa ingin menguras tabungan, Steam Deck atau Legion Go generasi awal yang sering didiskon jelas menawarkan value for money yang jauh lebih masuk akal.

Namun, jika anggaran bukan masalah dan kamu mencari performa handheld PC paling puncak dengan dukungan ekosistem game PC yang luas (Epic, Battle.net, EA App, Game Pass) tanpa kerumitan workaround Linux, mesin ini adalah raja baru di kelas premium.

Referensi


Sedang Ramai Dibaca