Industri handheld gaming PC selama beberapa tahun terakhir selalu tertahan oleh satu masalah klasik yang sama: Windows 11. OS buatan Microsoft ini memang fleksibel, tetapi navigasinya menggunakan layar sentuh kecil atau joystick sering kali memicu darah tinggi. Kehadiran ASUS ROG Xbox Ally X: Review Kombinasi Handheld dan Console Gaming ini menjadi momen pembuktian penting. Apakah kolaborasi resmi antara divisi hardware ASUS dan tim Xbox Microsoft mampu menyelesaikan penyakit kronis tersebut, atau ini cuma taktik pemasaran berbalut branding konsol?
Handheld seharga $999.99 ini membawa harapan besar. Di balik casing hitamnya, perangkat ini menjanjikan pengalaman ala konsol yang siap pakai tanpa perlu ribet mengurus desktop mode, lengkap dengan spesifikasi hardware kelas atas untuk melibas game PC modern.
Desain dan Ergonomi: Akhirnya Ada Perangkat yang Nyaman Dipegang
Jika ada satu hal yang langsung terasa begitu menggenggam ASUS ROG Xbox Ally X, itu adalah bagian grip atau gagangnya. ASUS akhirnya menanggalkan desain bodi rata yang kaku dan beralih mengadopsi lekukan ala controller Xbox nirkabel.
Ibarat memotong stik Xbox Series X di tengah lalu menempelkan layar di antaranya, perangkat ini terasa sangat alami di tangan. Distribusi bobotnya yang mencapai 1.58 pound (sekitar 716 gram) terbagi sangat seimbang. Sesi bermain game yang panjang tidak membuat pergelangan tangan cepat pegal.
Desain baru ini memang membuat dimensinya melebar menjadi 11.42 x 4.76 x 2.00 inci. Imbasnya, bodi perangkat jadi terasa lebih memakan tempat di dalam tas, apalagi ASUS tidak menyertakan carrying case bawaan di dalam paket penjualan.
Di bagian kontrol, tata letaknya mengusung gaya khas Xbox dengan joystick menyilang, tombol ABXY yang taktil, serta disk D-pad. Sayangnya, tombol joystick ini belum mengadopsi teknologi Hall Effect, sesuatu yang berpotensi menimbulkan isu drift di masa depan. Hall Effect justru diterapkan pada bagian trigger yang dilengkapi fitur impulse vibration. Tombol fisik khusus berlogo Xbox juga akhirnya hadir di sebelah kanan thumbstick kiri, fitur kecil yang sudah lama diidamkan para pengguna handheld berbasis Windows.
Satu-satunya sektor visual yang terasa agak tertinggal ada pada layarnya. ASUS masih bertahan dengan panel IPS 7 inci beresolusi 1080p dengan refresh rate 120Hz dan tingkat kecerahan 515 nits. Layar ini memang memiliki cakupan warna 110% sRGB dan mendukung Variable Refresh Rate (VRR), namun tingkat kontras dan kepekatannya jelas kalah memikat dibanding pesaing yang sudah mengadopsi panel OLED seperti Lenovo Legion Go 2 atau Steam Deck OLED.
Jeroan Ryzen AI Z2 Extreme dan Komparasi Spesifikasi
ASUS menyematkan APU terbaru dari AMD, yaitu Ryzen AI Z2 Extreme. Chipset ini dibekali konfigurasi 8 core (3 core Zen 5 dan 5 core Zen 5c) serta GPU terintegrasi Radeon RDNA 3.5 dengan 16 core. Tambahan NPU berkemampuan hingga 50 TOPS dipersiapkan untuk pemrosesan berbasis AI di masa depan.
Untuk mendukung kinerja pemrosesan grafik yang memakan memori besar, perangkat ini dibekali RAM 24GB LPDDR5x-8000 dan media penyimpanan SSD M.2 2280 PCIe 4.0 berkapasitas 1TB yang mudah diakses jika pengguna ingin melakukan upgrade.
Berikut adalah perbandingan spesifikasi teknis antara ASUS ROG Xbox Ally X dan varian Xbox Ally standar:
| Fitur / Spesifikasi | ASUS ROG Xbox Ally X | ASUS ROG Xbox Ally (Standard) |
|---|---|---|
| Harga Resmi | $999.99 | $599.00 |
| Prosesor (APU) | AMD Ryzen AI Z2 Extreme (Zen 5/5c) | AMD Ryzen Z2 A |
| Pengolah Grafis | AMD Radeon RDNA 3.5 (16 Cores) | Integrated RDNA Graphics |
| NPU | Up to 50 TOPS | Tidak disebutkan |
| Memori (RAM) | 24GB LPDDR5x-8000 | 16GB LPDDR5-6400 |
| Penyimpanan | 1TB PCIe 4.0 NVMe SSD (M.2 2280) | 512GB NVMe SSD |
| Baterai | 80 Whr | 60 Whr |
| Konektivitas Port | 1x USB4 (Thunderbolt 4), 1x USB 3.2 Gen 2 | 2x USB-C |
| Warna Casing | Hitam (Blackout) | Putih |
Realita Performa Gaming: Kencang di 720p, Kerap Berkompromi di 1080p
Pengujian performa dilakukan menggunakan antarmuka Xbox Full Screen Experience (FSE) dengan mode daya bawaan: 25W Performance Mode saat menggunakan baterai dan 35W Turbo Mode saat terhubung ke pengisi daya.
Saat menjalankan game berat seperti Indiana Jones and the Great Circle, Ally X sanggup menyajikan gameplay mulus di kisaran 60 FPS pada setelan grafis Low dengan bantuan upscaling AMD FSR mode Balanced di resolusi 1080p. Untuk game aksi taktis seperti Marvel's Midnight Suns, angka frame rate bergerak stabil antara 75 hingga 111 FPS pada resolusi 720p setelan Medium.
Game dengan optimasi tinggi seperti Clair Obscur: Expedition 33 dapat berjalan nyaman di 50-70 FPS pada resolusi 900p memanfaatkan XeSS upscaling. Sementara untuk game yang sangat berat seperti Cyberpunk 2077, pengaturan resolusi harus diturunkan ke 720p dengan profil render resolution lebih rendah agar mendapatkan frame rate yang layak dimainkan.
Pada pengujian benchmark Shadow of the Tomb Raider (preset Medium, DX12), Ally X mencetak 79 FPS di resolusi 720p saat menggunakan baterai dan 64 FPS saat dicolok listrik. Pada resolusi native 1080p, hasilnya masing-masing berada di angka 52 FPS dan 45 FPS.
Sementara pada Red Dead Redemption 2, perangkat ini menembus 66 FPS pada resolusi 720p mode baterai, menunjukkan peningkatan yang konsisten dibanding chip Z1 Extreme generasi terdahulu.
Sebaliknya, versi adik dari perangkat ini, yaitu Xbox Ally varian putih seharga $599 yang ditenagai chip Ryzen Z2 A, justru tampil mengecewakan. Dalam beberapa pengujian game seperti Returnal dan Horizon Zero Dawn Remastered, performa varian $599 ini kerap kalah cepat hingga 13 persen dibanding Steam Deck yang harganya lebih murah dan mengusung chip berusia dua tahun.
Daya tahan baterai 80 Whr pada Xbox Ally X tergolong sangat solid. Saat digunakan memainkan game skala menengah seperti Marvel's Midnight Suns pada mode 17W Performance dengan kecerahan layar 50%, baterai berkurang 50% dalam waktu sekitar 1 jam 32 menit. Ini mengindikasikan total daya tahan mencapai 3 jam penuh. Jika digunakan untuk memainkan game ringan seperti Hollow Knight: Silksong dengan menurunkan TDP, daya tahannya bisa menembus hingga 8 jam.
Xbox Full Screen Experience: Antarmuka Baru, Masalah Lama
Daya tarik utama perangkat ini terletak pada Xbox Full Screen Experience (FSE). Begitu dinyalakan, sistem tidak akan menampilkan desktop Windows 11 biasa, melainkan langsung masuk ke antarmuka aplikasi Xbox yang dirancang khusus untuk gamepad.
Sistem ini mematikan sejumlah komponen latar belakang Windows yang tidak diperlukan untuk gaming. Langkah ini terbukti menghemat penggunaan RAM dan mengalokasikan alur pemrosesan secara maksimal ke game.
Pusat perpustakaan game menyatukan judul-judul dari Xbox Store, Steam, Epic Games Store, Battle.net, GOG Galaxy, hingga Ubisoft Connect dalam satu antarmuka. Menekan tombol fisik Xbox akan memunculkan menu overlay ala Xbox Game Bar yang berisi pengaturan cepat, daftar teman, serta beralih aplikasi.
Sayangnya, integrasi software ini belum sepenuhnya matang:
- Kendala Peluncur Pihak Ketiga: Saat memilih game dari Epic Games Store atau launcher spesifik seperti peluncur milik CD Projekt Red, antarmuka FSE tetap harus membuka launcher eksternal di latar belakang. Pengguna sering kali terjebak di antarmuka launcher yang tidak mendukung kontrol joystick, sehingga memaksa jari untuk menyentuh layar sentuh secara canggung.
- Proses Setup dan Bug Software: Unit yang diterima penguji tidak dilengkapi versi final FSE. Proses awal membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk melakukan pembaruan driver, BIOS, dan OS. Beberapa kendala teknis seperti jendela User Account Control (UAC) yang bersembunyi di balik layar FSE masih sering ditemukan.
- Isu Sleep Mode: Fitur sleep pada varian Ally X tergolong jauh lebih stabil dibanding handheld Windows standar. Pengujian menunjukkan game yang di-pause sanggup bertahan dalam kondisi sleep selama 38 jam tanpa menguras baterai secara drastis. Namun, pada varian putih $599, sistem sleep justru sering bermasalah, di mana perangkat kerap menyala sendiri di dalam tas atau gagal mengisi daya.
Pertanyaan Besar: Apakah Perangkat Ini Sebuah Xbox?
Microsoft sedang gencar mengusung kampanye bahwa "apa pun bisa menjadi Xbox". Namun bagi gamer yang terbiasa dengan konsol Xbox Series X atau Series S, ASUS ROG Xbox Ally X menawarkan ekosistem yang berbeda secara mendasar.
Perangkat ini tidak dapat menjalankan game ekosistem konsol Xbox secara native dari kaset atau unduhan digital khusus konsol. Perangkat ini murni menjalankan game versi PC.
Dukungan fitur Xbox Play Anywhere memang sangat membantu. Game yang mendukung fitur ini dapat menyelaraskan data save, achievement, serta add-on secara otomatis antara konsol Xbox dan perangkat handheld ini. Pengguna bisa melanjutkan riwayat permainan dari konsol ke Ally X tanpa kendala.
Namun, jika sebuah game di perpustakaan Xbox tidak mendukung label Play Anywhere, pengguna tidak bisa memainkannya di perangkat ini kecuali melalui opsi Cloud Gaming atau Remote Play dari konsol rumah.
Di sisi lain, kebebasan khas PC tetap dipertahankan. Pengguna masih bisa menginstal Steam, menggunakan Big Picture Mode, mengatur konsumsi daya TDP lewat software ASUS Armoury Crate SE, bahkan keluar dari FSE untuk masuk ke desktop Windows 11 seutuhnya.
Kesimpulan: Langkah Maju yang Belum Sempurna
ASUS ROG Xbox Ally X berhasil membuktikan dua hal penting di industri ini. Pertama, gagang ergonomis gaya controller konsol adalah bentuk paling ideal untuk sebuah handheld gaming. Kedua, sistem operasi Windows 11 memiliki potensi besar untuk menjadi nyaman digunakan jika Microsoft serius memangkas antarmuka desktop-nya.
Bagi pengguna yang baru ingin masuk ke dunia handheld PC gaming dan menginginkan fleksibilitas Windows tanpa kerumitan desktop, varian Ally X seharga $999.99 ini merupakan salah satu pilihan terbaik saat ini. Ergonominya sangat nyaman, baterainya awet, dan antarmuka Xbox FSE membuat navigasi game jauh lebih praktis.
Namun, harganya yang tergolong tinggi serta belum hadirnya layar OLED membuat pengguna yang sudah memiliki ROG Ally X versi 2024 (Z1 Extreme) rasanya tidak perlu terburu-buru melakukan upgrade. Pengalaman perangkat lunak FSE ini juga dijanjikan akan dirilis untuk handheld Windows 11 lainnya di masa depan.
Referensi
- https://www.tomshardware.com/video-games/console-gaming/asus-rog-xbox-ally-x-review
- https://www.theverge.com/games/799698/xbox-ally-x-review-asus-microsoft-full-screen-experience
